Komunikasi yang Sehat Antara Pemimpin dan Karyawan

Host: Di tema-tema sebelumnya kita pernah membahas sekilas tentang komunikasi. Sebenarnya seperti apakah komunikasi yang sehat itu?
Narasumber: Bicara tentang komunikasi, yang pertama berarti kita berbicara tentang sesuatu yang dapat dipahami oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam komunikasi itu sendiri. Karena apa gunanya kita berkata bahwa kita sudah mengkomunikasikan sesuatu, jika apa yang kita ingin komunikasikan tersebut tidak bisa dipahami oleh orang yang kita ajak berkomunikasi. Itu sebabnya dalam berkomunikasi yang sehat kita perlu mempergunakan bahasa-bahasa/istilah-istilah yang bisa dipahami pihak-pihak yang bersangkutan. Sebagai contoh: jika saya adalah seorang pengusaha dan saya berusaha untuk berkomunikasi dengan seorang dokter – mungkin saya ingin menyampaikan apa yang menjadi sudut pandang saya sebagai seorang pengusaha – mau tidak mau saya harus mencoba membahasakannya dengan istilah-istilah atau kata-kata yang umum dan dipahami bagi para dokter, sehingga apa yang saya ingin komunikasikan dapat dengan mudah dipahami oleh dokter yang saya ajak berkomunikasi. Aspek kedua yang juga sangat penting dalam berkomunikasi yang sehat adalah komunikasi yang dilakukan harus bersifat konstruktif. Maksudnya, komunikasi tersebut lebih menonjolkan sisi positif dari apapun yang kita ingin sampaikan. Dalam komunikasi yang konstruktif ada arahan atau petunjuk-petunjuk yang diberikan; kalaupun ada teguran, teguran tersebut diberikan tidak secara destruktif. Kesalahan yang ada tetap dikoreksi, tetapi tidak dengan menyerang atau mengintimidasi orang yang melakukan kesalahan itu, melainkan dengan memberitahukan kepada orang yang bersangkutan bagaimana agar mereka dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien. Jika ada di antara Hearlisteners yang mungkin berkata, “Saya sering mengalami perlakuan yang mengintimidasi, menekan ataupun menyerang dari pemimpin saya,” sebelum kita membicarakan hal ini lebih dalam lagi, ada baiknya kita mengevaluasi diri terlebih dahulu mengapa hal itu bisa terjadi. Karena sepanjang yang saya tahu, jika komunikasi antara pemimpin dan karyawan terjadi dengan baik, saya rasa tidak ada satu pemimpimpun yang ingin terus mengintimidasi karyawannya. Kalaupun kita memang kebetulan bekerja di satu perusahaan yang pemimpinnya lebih suka mengintimidasi dari pada memberikan kata-kata dorongan, mungkin Anda bisa mempertimbangkan lebih lanjut karena kondisi kerja yang seperti itu tidak akan sehat. Orang yang terus menerus bekerja di bawah tekanan atau intimidasi tidak akan berakibat baik bagi orang yang bersangkutan, apalagi jika ia sudah berusaha melakukan yang terbaik dan berusaha untuk membangun komunikasi, namun kondisi tetap tidak mengalami perubahan. Saya menyarankan, jangan buru-buru mengambil keputusan tapi lakukanlah evaluasi terlebih dahulu, karena keputusan yang diambil secara emosional hanya akan membuat kita sendiri menyesal di kemudian hari.

Host: Berarti, dalam komunikasi yang konstruktif tadi ada unsur memotivasi, Pak?
Narasumber: Betul, karena apabila kita berbicara tentang komunikasi yang sifatnya konstruktif atau membangun, artinya apa yang sudah dikerjakan oleh karyawan kita, kita evaluasi. Jika hasilnya ternyata buruk, mau tidak mau kita harus berkata: buruk dan kita mulai memberikan arahan lebih lanjut apa yang harus dilakukan; Ketika pekerjaan dari karyawan yang bersangkutan sudah mulai membaik, sebagai pemimpin kita harus bisa berkata: pekerjaanmu sudah mulai membaik. Kalau ternyata hasilnya sangat baik, kitapun perlu memuji: pekerjaanmu sangat bagus, terus pertahankan; dengan demikian, si karyawan sendiri akan merasakan adanya sense of achievement. Di sisi yang lain, jika ternyata pemimpin masih mencela atau memberikan teguran, sebagai karyawan kita tidak boleh berputus asa apalagi sampai memiliki ganjalan di hati kita, karena itu akan merugikan kita sendiri. Setiap kali kita menyimpan konflik di dalam pekerjaan, otomatis pekerjaan kita tidak akan bisa maksimal.

Host: Di banyak perusahaan, bisa dibilang faktor komunikasi ini masih tidak terlalu diperhatikan. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Narasumber: Sebetulnya, sebuah perusahaan seharusnya mengikuti standar prosedur yang selayaknya, di mana dalam sebuah perusahaan ada yang namanya staf HRD (Human Resources Development). Namun seringkali perusahaan yang jumlah karyawannya belum terlalu banyak merasa belum membutuhkan seorang staf HRD. Dan kalaupun perusahaan yang cukup besar belum memiliki staf HRD, seharusnya ada salah satu dari karyawan yang ada yang difungsikan ganda untuk menjadi HRD ini. Apa tujuannya? Untuk mengkomunikasikan apa yang pemimpin inginkan kepada para karyawan atau sebaliknya. Jika komunikasi 2 arah ini bisa terus berlangsung, saya yakin semuanya akan menjadi jauh lebih baik, karena bagaimanapun juga dalam sebuah perusahaan kita seperti sedang melakukan sebuah kerja tim, baik antara karyawan yang satu dengan karyawan yang lain maupun antara karyawan dengan pemimpin. Di sinilah komunikasi yang sehat sangat dibutuhkan. Dengan adanya seorang staf HRD, ia akan bisa menjadi jembatan penghubung.

Host: Kalau begitu, bagaimana caranya agar antara pemimpin dan karyawan bisa terbangun sebuah komunikasi yang baik? Langkah-langkah apa saja yang bisa dilakukan?
Narasumber: Sebetulnya sederhana; dari pihak pemimpin, pemimpin hanya perlu menyampaikan apa yang ia inginkan dan memperjelas apa yang ia harapkan kepada karyawannya, lalu dari pihak karyawan, karyawan hanya tinggal melakukan apa yang telah disampaikan oleh pmimpin. Selama pemimpin terus memberikan apa yang menjadi hak karyawan dan karyawan selalu mengerjakan apa yang menjadi tugas dan kewajibannya, maka segala sesuatunya akan berlangsung dengan sangat baik dan komunikasi akan menjadi sangat sehat. Alasan mengapa bisa terjadi demonstrasi di sebuah perusahan adalah karena seringkali karyawan merasa apa yang menjadi haknya tidak diberikan oleh pemimpinnya, sementara sang pemimpin terus menuntut karyawan untuk melakukan kewajibannya. Selama pemimpin bisa menyampaikan apa yang ia harapkan dan dipahami oleh karyawannya, dan di sisi yang lain pemimpin memberikan apa yang menjadi hak karyawan dan karyawan melakukan kewajibannya, segala sesuatunya pasti akan berjalan dengan baik.

Host: Jika antara pemimpin dan karyawan telah terlanjur terjadi sebuah communication gap, bagaimana cara kita menanggulangi communication gap ini selain dengan merekrut seorang staf HRD seperti yang tadi Bapak katakan?
Narasumber: Sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah niat baik untuk terjadinya pemulihan komunikasi. Kita bisa saja memiliki seorang staf HRD, namun jika niat baik itu tidak ada, maka yang akan menjadi pusing justru staf HRD yang ada. Ketika masing-masing pihak – minimal salah satu pihak – memiliki niat baik untuk terjadinya sebuah komunikasi, jalan untuk terjadinya pemulihan akan jauh lebih mudah. Seandainya kita mulai memposisikan diri dengan tepat dan menghargai orang lain sesuai dengan posisi mereka masing-masing, yang namanya membangun komunikasi akan menjadi jauh lebih mudah. Jika inisiatif untuk membangun komunikasi datang dari seorang pemimpin, tindakan pemimpin yang merendahkan hati untuk dapat membangun komunikasi dengan karyawannya tersebut akan membuat karyawan sekeras atau sulit apapun menjadi mulai terbuka, dan demikian pula sebaliknya.

Host: Berarti, kemampuan komunikasi yang kita miliki besar pengaruhnya terhadap kinerja, Pak?
Narasumber: Sangat besar. Itu sebabnya, adalah penting untuk setiap kita, baik sebagai pemimpin mupun karyawan, terus mengasah kemampuan kita dalam berkomunikasi. Karena ketika kita gagal untuk mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran kita – apa yang menjadi tujuan maupun pengharapan kita, akan selalu terjadi miscommunication, bahkan lebih parah lagi bisa terjadi misunderstanding (kesalahpahaman).

Host: Lalu hal-hal apa saja yang berpotensi untuk merusak komunikasi yang baik antara pemimpin dan karyawan?
Narasumber: Hal pertama dan yang paling berbahaya adalah asumsi negatif, karena sekali kita memiliki asumsi negatif tentang lawan bicara kita, secara otomatis komunikasi yang akan terbangun tidak akan bersifat konstruktif melainkan mulai bersifat menyerang dan menjatuhkan. Jadi, jangan biarkan ada asumsi-asumsi negatif dalam diri kita tentang orang yang sedang kita ajak berkomunikasi tetapi milikilah sudut pandang yang selalu positif. Selain asumsi negatif, hal kedua yang dapat merusak komunikasi adalah cara berkomunikasi yang keliru; intonasi yang keliru dapat menciptakan pemahaman yang keliru. Yang ketiga, pemilihan kata. Dalam berkomunikasi, jangan mempergunakan kata-kata yang kasar atau bersifat merendahkan tetapi pakailah kata-kata yang lebih sopan dan etis. Kadangkala dalam kondisi yang emosional – terlebih lagi jika kita merasa memiliki posisi penting tertentu dan ada pada pihak yang tidak bersalah – intonasi dan pemilihan kata yang kita gunakan jadi salah. Karena itu ada istilah yang berkata: Hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin. Maksudnya adalah, meskipun kita sedang tersinggung, kita harus tetap menyadari siapa diri kita sesungguhnya – harkat martabat kita. Dengan kita menyadari hal tersebut, akan jauh lebih mudah untuk kita dapat menguasai diri, betapapun marahnya kita.

Host: Berkaitan dengan cara berbicara tadi, tidak sedikit orang yang memiliki kebiasaan berbicara yang dikenal dengan istilah ‘sarkastis’ – berbicara dengan kata-kata yang menyakitkan, menyindir, menyinggung, dll. Apa penyebabnya?
Narasumber: Hal itu bisa disebabkan karena orang yang bersangkutan menyimpan berbagai konflik batin ataupun gejolak emosi negatif, sehingga apapun yang keluar dari mulutnya pasti tidak jauh berbeda dari apa yang ada di hatinya. Selama konflik yang ada di dalam hatinya tersebut tidak dituntaskan, kata-kata yang ia pakai juga dengan sendirinya akan penuh dengan kenegatifan, kata-kata yang menyakitkan/merendahkan. Penyebab kedua adalah karena hal tersebut sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam hidupnya dan tidak ada orang yang mengoreksi kebiasaannya tersebut, sehingga ia menganggap apa yang ia lakukan tersebut tidak salah. Dengan kata lain kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari mentalitasnya, sehingga untuk mengalami perubahan kadangkala dibutuhkan sebuah ‘benturan’ yang menyakitkan. ‘Benturan’ yang menyakitkan itupun dapat menimbulkan dua respon: jika orang tersebut tidak memiliki keterbukaan, ia justru akan menjadi semakin kasar dan lebih parah dari yang sebelumnya, tetapi orang yang memiliki hati dan pikiran yang terbuka akan menyadari bahwa apa yang ia lakukan selama ini ternyata menyakiti orang-orang lain.

Host: Tadi Bapak sebutkan bahwa salah satu faktor perusak komunikasi adalah asumsi negatif. Asumsi negatif itu sendiri bisa disebabkan karena kita menerima informasi yang negatif tentang seseorang dari orang lain ataupun karena perlakuan buruk yang kita terima dari seseorang sehingga akhirnya terbentuklah suatu asumsi yang negatif dalam diri kita tentang orang tersebut. Lalu bagaimana caranya agar dalam membangun hubungan dengan seseorang, kita dapat menanggulangi asumsi negatif yang terlanjur terbentuk dalam diri kita tentang orang tersebut, meskipun ternyata asumsi negatif yang kita miliki memang terbukti benar?
Narasumber: Jika kita mendapati bahwa apa yang menjadi asumsi negatif itu ternyata benar, untuk kita bisa tetap memiliki komunikasi yang sehat, kita harus mencoba untuk tetap memiliki prasangka yang positif atau memiliki sebuah pengharapan yang positif bahwa orang yang kita ajak berkomunikasi ini pasti sekali waktu akan mengalami perubahan. Di sisi yang lain, kita juga harus memiliki sebuah gambaran kenyataan bahwa bagaimanapun juga, kita semua saling membutuhkan, walaupun mungkin ada dugaan-dugaan negatif tentang orang yang kita ajak berkomunikasi. Selama dugaan negatif tersebut masih dalam batas-batas toleransi, sebetulnya kita bisa mencoba untuk mengacuhkan atau menyingkirkan asumsi-asumsi negatif yang ada, kecuali jika asumsi negatif tersebut sudah mulai menjurus ke hal-hal yang ‘membahayakan’.

Host: Kita sering mendengar istilah ‘bawel otodidak’ atau orang-orang yang disebut fasih berbicara. Apakah orang-orang yang ‘bawel otodidak’ tersebut bisa disamakan dengan orang yang memiliki kemampuan komunikatif?
Narasumber: Sebetulnya orang yang bawel atau cerewet tidak bisa 100% disamakan dengan orang yang komunikatif. Ada orang-orang tertentu yang kebawelannya justru membuat orang-orang di sekitarnya menjadi bingung, tapi setidaknya ia memiliki modal yang tinggal diasah dan diperlengkapi dengan kata-kata yang tepat dan pengetahuan yang lebih luas, sehingga apa yang ia ucapkan menjadi lebih ‘berbobot’. Karena selama ini konotasi yang ada tentang orang yang bawel atau cerewet adalah orang yang banyak kata-kata tapi sedikit maknanya, atau dengan kata lain tong kosong nyaring bunyinya. Jadi, alangkah baiknya jika orang-orang yang dikategorikan ‘bawel’ ini mulai diperlengkapi dengan pengetahuan yang berguna, sehingga ketika ia mulai memunculkan sifat ‘kebawelannya’, ia bisa memunculkan kata-kata yang dapat menginspirasi orang lain, memotivasi ataupun memberikan dorongan bagi orang lain, karena kata-katanya yang kaya dengan hikmat, pengetahuan, dan kaya akan makna.

Host: Mengapa seseorang yang bahkan sudah memiliki kemampuan yang bagus dalam berkomunikasi, ketika berhadapan dengan seorang pemimpin, terutama pemimpin yang berwibawa, seringkali bisa menjadi gagap dan kehilangan kata-kata yang tadinya sudah ia persiapkan? Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?
Narasumber: Memang ada orang-orang tertentu yang jika berbicara di kalangan rekan-rekan sepantarannya atau orang-orang yang berada pada level di bawahnya – baik secara posisi maupun kematangan – bisa disebut sebagai pembicara yang handal. Tetapi ketika ia bertemu dengan seseorang yang ia teladani dan hormati – orang yang berwibawa tadi, biasanya rasa groginya segera muncul sehingga kata-katanya menjadi berantakan. Kalau ditanya mengapa hal ini bisa terjadi, penyebabnya adalah karena faktor psikologis.

Host: Apakah hal itu bisa diatasi?
Narasumber: Bisa, karena ini hanya faktor jati diri dan gejolak emosional saja, mungkin sakit semangatnya karena bertemu dengan orang yang dia ‘idolakan’. Sama seperti beberapa waktu yang lalu ketika salah satu stasiun televisi mengadakan acara yang mempertemukan seorang artis dengan salah satu fansnya. Di situ kita bisa melihat bagaimana seseorang bisa menangis begitu rupa hanya karena bertemu dengan artis yang dia idolakan, yang disebabkan karena gejolak emosional yang dia miliki. Nah, untuk menanggulanginya dia hanya perlu menetralisir atau mengendalikan emosinya. Cara termudah untuk mengendalikan emosi atau meng-handle diri kita secara psikologis ketika bertemu dengan orang yang sangat kita hargai atau hormati adalah dengan kita mengimajinasikannya terlebih dahulu. Jadi sebelum kita bertemu dengan orang tersebut, kita membayangkan terlebih dulu – jadi jangan hanya merancangkan tapi mulailah bayangkan atau imajinasikan – apa yang akan kita ucapkan dan lakukan pada waktu kita bertemu dengan orang tersebut, bagaimana sikap dan tindakan kita, dan kata-kata apa yang kita akan ucapkan. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mengajarkan tentang teknik afirmasi; sebetulnya ini adalah salah satu bagian dari teknik afirmasi, di mana kita mencoba menata kembali alam bawah sadar kita. Rasa grogi dan gejolak emosional muncul ketika bertemu dengan orang yang kita hargai sebetulnya disebabkan karena di alam bawah sadar kita, telah tersimpan semacam memori atau prinsip-prinsip tertentu yang memicu gejolak emosi tersebut setiap kali ada situasi-situasi tertentu yang tiba-tiba muncul di depan kita. Satu-satunya cara adalah dengan mengubah alam bawah sadar kita terlebih dahulu dengan cara membayangkan bagaimana ketika kita bertemu dengan orang yang kita hargai tersebut. Ketika kita melakukannya, kita seperti sedang mengedit atau mendesain ulang alam bawah sadar kita, sehingga ketika kita sungguh-sungguh bertemu dengan orang yang kita hargai tersebut, secara otomatis alam bawah sadar kita akan langsung bekerja sesuai dengan apa yang sudah kita imajinasikan. Untuk sesaat rasa grogi dan gejolak emosi mungkin masih akan muncul, tapi alam bawah sadar kita yang sudah didesain ulang akan segera muncul suatu perintah yang baru, yang membuat emosi kita jadi terkendali, cara berbicara dan sikap serta tingkah laku kita pun jadi teratur.

Host: Sebagai penutup, bagaimana kita bisa mengasah kemampuan komunikasi yang kita miliki?
Narasumber: Yang pertama, kita harus memiliki kata-kata yang cukup, karena komunikasi sangat erat kaitannya dengan kata-kata. Untuk bisa memiliki kosakata yang cukup, pastikan kita banyak membaca. Semakin banyak kita membaca, semakin kita akan memiliki kosakata yang memadai. Yang kedua, tidak ada salahnya kita mencoba untuk mengkonsep apa yang ingin kita bicarakan. Yang ketiga, banyak-banyaklah berlatih berkomunikasi; ceritakan apa yang ada dalam diri kita kepada orang-oranglain yang menjadi teman dekat kita, sehingga mereka akan bisa mengoreksi jika ada cara berbicara kita yang masih keliru.

Host:Adakah kesimpulan yang Bapak ingin sampaikan untuk Heartlisteners sore ini?
Narasumber: Satu kesimpulan dan pesan inspirasional untuk seluruh Heartlisteners: komunikasi akan membuat kita memiliki lebih banyak relasi, terlebih lagi jika kita mampu berkomunikasi dengan baik, musuh sekalipun akan bisa menjadi teman dan sahabat yang mendorong kita untuk memasuki kesuksesan yang lebih lagi.

Iklan